Amarah Kerbau

Cermin : Saiful Bahri

Amarah Kerbau

Tengah malam. Hujan berangin. Sebuah kota tua meringkuk dalam gigil tak nyaman. Seorang lelaki tua merangkak pilu tak hirau gebalau alam. Seekor kerbau melenguh riang merancang hiruk-pikuk petaka.

Hanya sekali petir menyambar, ketika rintik tipis tanah menebar bau kuburan. Tanah liat yang becek menghambat langkah gagah kerbau jantan yang menembus lorong-lorong kampung. Beberapa batang pisang tumbang melintang di ujung lorong. Selembar kantong plastik kresek hitam  bergulung-gulung dan tersaruk-saruk diseret angin. Lama sekali waktu berlalu.

Maka, ketika pagi menyeruak, kerbau pun tiba di perempatan pinggir kota tua itu. Ketika ada keinginan untuk memamah biak sisa makanan subuh tadi, seketika itu juga tercengang dan tercenunglah ia. Lain, ada kelainan yang tertangkap oleh insting kebinatangannya : Siang Ada Bala. Kelabakanlah sang kerbau. Bagaimanakah ini? Kemanakah aku ini? Lari! Lari! Lari! Ah, jangan! Jangan lari dulu. Mantapkan dulu serat-serat insting, siapa tahu tadi ada kerancuan  frekwensi, sehingga mengaburkan sekat-sekat hakikat instingnya.

Kerbau merinding, ketika tatapan tajam seorang lelaki tua menadahkan tangan kearahnya. Kota tua menyeringai bengis memandangnya. Gila! Ini malapetaka. Insting kerbau tak mungkin lagi terkelabui. Gemetarlah sekujur tubuh kerbau. Terkencing-kencinglah kerbau.

Ambang batas kesabaran kerbau pun punah. Maka, lari adalah pilihan. Jadilah kerbau berlari-lari. Jadilah kerbau pelarian. Bergemuruhlah kota tua. Blingsatanlah orang-orang di jalanan. Terjadilah adegan kejar-kejaran.  Gabuklah suasana perjalanan hari. Jeritan, makian, cercaan, cemoohan, bisikan, perkiraan-perkiraan, kasak-kusuk terjadi di sana-sini. Semua saling menuduh. Semua merasa tertuduh. Kegaduhan itu membuat wajah kota tua semakin carut-marut.

Ketika kerbau tersekap, bala itu semakin dekat. Kerbau terisak menyesali instingnya. Lelaki tua terkekeh menertawai nasibnya. Kota tua meremang girang menunggu bala segera datang.

Tengah hari, badai berhujan datang. Kecang badainya. Deras hujannya. Gemuruh itu mengunyah-ngunyah insting kerbau.

Banda Aceh, 15 Mei 2007

Iklan

Seseorang Akan Menjemput

Seseorang Akan Menjemput

Cerpen : Mustafa Ismail

DALAM taksi menuju bandara, sebuah pesan singkat masuk ke telepon genggamku. “Dia akan menjemputmu di bandara di Pangkal Pinang. Dia makin cantik. Rambut sebahunya dicat keemasan, dan ketika tersenyum lesung pipinya sangat menonjol. Tingginya kira-kira 165 centimeter. Ia memakai celana jeans hitam dan kaos coklat muda.”

Tidak ada nama pengirim. Juga tidak ada kata-kata berbau basa-basi atau kata-kata pembuka semisal “Selamat siang, Mas….” dan sebagainya. Pesan singkat itu langsung masuk pada persoalan intinya: seseorang akan menjemput. Lebih tepatnya, seseorang yang cantik. Wow, menarik sekali sebetulnya pesan ini.

Tapi aku tidak merasa pernah punya teman yang akan menjemputku di Pangkal Pinang, kota yang kutuju. Lagi pula, aku tidak perlu dijemput, karena aku pergi bersama sebuah rombongan. Selain aku, ada penyair Rahardi, serta Pak Amran dan Dedy dari Pusat Bahasa. Kami menjadi pemateri pelatihan menulis di Muntok, sekitar tiga jam perjalanan dari kota Pangkal Pinang.

Pastilah pesan singkat itu salah sambung, maka itu aku segera menghapus dan melupakannya. Tapi, beberapa saat setelah pesan itu kuhapus, telepon genggamku bergetar kembali. Aku menduga ini dari Dedy yang telah tiba duluan di bandara. Sejak tadi, Dedy beberapa kali menelpon memastikanku sudah sampai di mana. Memang, aku agak terlambat dari kantor menuju ke bandara.
Kuraih telepon genggam dari saku celana dan membuka pesan itu dan membacanya. “Dia akan menjemputmu di bandara di Pangkal Pinang. Dia makin cantik. Rambut sebahunya dicat keemasan, dan ketika tersenyum lesung pipinya sangat menonjol. Tingginya kira-kira 165 centimeter. Ia memakai celana jeans hitam dan kaos coklat muda.”
Ah, pesan salah sambung itu lagi. Tanpa buang waktu, segera aku hapus pesan itu. Tapi belum sempat telepon genggam kumasukkan kembali ke saku celana, si telepon genggam itu bergetar kembali. Aku kaget luar biasa ketika kulihat yang masuk adalah pesan yang sama. Sejenak aku sempat terdiam. Pikiranku ke mana-mana: siapa sebetulnya yang iseng sekali mengirim pesan singkat ini.
Kemungkinan besar orang itu keliru mencatat nomor telepon genggam orang yang ingin dikirimkan pesan singkat itu. Jika benar, betapa kasihan orang yang semestinya dapat pesan singkat itu. Boleh jadi orang itu tidak akan tahu siapa yang akan menjemputnya di bandara nanti setiba di Pangkal Pinang. Bayangkan jika seseorang yang menjemputnya nanti juga tidak tahu orang yang ingin dijemput.
Tapi, jika dipikir-pikir, mengapa pesannya seolah-olah benar kepadaku. Dari mana ia tahu aku akan terbang ke Pangkal Pinang. Atau jangan-jangan, ada seseorang teman yang sedang menjahiliku. Aku jadi ingat Yasra yang dijahili seorang teman. Teman itu memasang iklan di internet bahwa telepon genggam Yasra yang baru dibeli seharga Rp 9 juta akan dijual Rp 2,5 juta. Kontan banyak orang menelpon ingin membeli telepon genggam Yasra itu. Ia pusing tujuh keliling.
Bukan tidak mungkin pesan singkat ini juga ulah seorang atau beberapa kawanku. Tapi, aku membiarkan saja pesan singkat itu berdiam di telepon genggamku, aku tidak menghapusnya. Persis ketika memasuki gerbang bandara, telepon genggamku bergetar lagi. Wah, pastilah pesan singkat salah sambung itu. Aku tidak bernafsu untuk melihatnya.
Beberapa saat kemudian, telepon genggamku bernyanyi nyaring. Ada yang menelpon. Aku segera meraih telepon genggamku dan menjawabnya. Dari seberang kudengar suara Dedy yang rada-rada cemas. “Sudah ada di mana Pak? Waktu check in tinggal 15 menit lagi. Buruan Pak.”
“Saya sudah masuk ke terminal satu kok. Paling lima menit lagi tiba di sana. Tunggu di luar ya,” kataku.
“Oke.”
Telepon kututup. Aku memasukkan kembali telepon genggam ke saku celana. Tapi entah mengapa ada sebuah dorongan untuk melihat kembali pesan singkat salah sambung itu. Aku membuka dan membaca kembali. Pesan singkat itu berasal dari nomor lain, yang juga tak kukenal. “Aku mencintaimu. Aku tak henti memikirkanmu. Maafkan aku.”
Siapa lagi ini. Ah, ngapain aku memikirkan SMS nyasar. Reflek, aku pun menghapus pesan itu. Tapi baru beberapa detik telepon genggamku berada kembali di kantong celana, ia kembali bergetar. Ada pesan singkat masuk lagi. Kupikir dari Dedy yang tidak sabaran menunggu, ternyata bukan.
“Dia akan menjemputmu di bandara di Pangkal Pinang. Dia makin cantik. Rambut sebahunya dicat keemasan, dan ketika tersenyum lesung pipinya sangat menonjol. Tingginya kira-kira 165 centimeter. Ia memakai celana jeans hitam dan kaos coklat muda.”
Aneh. Kok rasa-rasanya pesan singkat itu benar ditujukan untukku. Siapakah yang mengirimkannya? Secantik apa pula gadis yang akan menjemput di bandara di Pangkal Pinang nanti?
Ah, seperti ada seseorang yang tahu bahwa pesan singkat itu telah kuhapus. Maka, segera pesan singkat baru dengan isi sama masuk, untuk menjadi pengingat atau informasi penting bagiku. Aku melirik supir di samping kananku, ia tidak sedang memegang telepon genggam. Jadi tidak mungkin ia yang mengirim pesan singkat itu. Lagi pula, dari mana supir taksi tahu nomor telepon genggamku. Bodoh juga aku.
Kali ini, pesan singkat itu tidak akan kuhapus. Aku memasukkan kembali telepon genggam ke dalam saku celana dan aku bersia-siap untuk turun dari taksi. Di bibir teras bandara, Dedy dan Pak Amran tampak gelisah menunggu. Begitu ia melihat sebuah taksi berhenti, ia bergegas menghampiri.
“Masih ada bawaan Pak?” tanya Dedy.
“Tidak, cuma ransel ini,” kataku sambil memperlihatkan ranselku.
Kami buru-buru masuk dan check in. Di ruang tunggu, aku terkesiap melihat seorang perempuan berdiri di rak koran memandang ke arahku. Ciri-cirinya persis sama seperti disebutkan dalam pesan singkat itu. Aku segera menguasai pikiranku bahwa tidak mungkin orang yang dimaksud dalam pesan singkat itu ada di sini. Sebab, ia hanya akan datang ke bandara di Pangkal Pinang.
Perempuan itu tersenyum tipis, lalu matanya mengarah ke koran yang sedang diambilnya. Aku melangkah mengikuti Pak Amran dan Dedy, duduk bersama mereka pada sebuah deretan bangku yang menghadap ke televisi. Seorang presenter sedang membawa acara gosip-gosip artis. Aku tidak terlalu hirau, meski mataku tetap ke layar televisi untuk membunuh kebosanan.
Tak lama, penyair Rahardi muncul. Pak Amran memperkenalkannya kepadaku. Aku memang belum pernah bertemu dengan penyair terkenal itu, meski karya-karyanya sudah lama kubaca. Penyair itu tidak langsung duduk bersama kami, tapi minta izin mau merokok di luar ruangan.
Belum jauh ia beranjak, dari mikrofon terdengar pengumuman bahwa penerbangan ditunda 30 menit, karena masih menunggu pesawat yang datang dari Surabaya. Aku merutuk dalam hati, tunda lagi, tunda lagi. Aku sudah sangat sering mengalami penundaan pesawat, dan itu terus terjadi.
Untuk mengusir kebosanan, aku menelpon ke rumah untuk mengobrol dengan siapa saja yang mengangkat telepon di sana, entah itu anakku atau mungkin perempuan pengasuh yang kebetulan sedang menonton gosip artis atau sinetron tak mutu di televisi. Istriku jam segini pasti belum pulang dari kantor.
Sehari-hari, sang pengasuh yang cukup cantik dan baik hati itulah yang menemani anak-anakku di rumah. Anakku sudah menganggap dia seperti tantenya sendiri. Begitu pula kami, sudah menganggapnya seperti adik kami sendiri. Ia baik, dan cukup pintar, meski sekolahnya hanya tamat SMU. Ia punya cita-cita besar untuk menjadi artis.
Itu pula yang membuatnya senang menonton sinetron, termasuk info gosip artis-artisnya, belajar akting sendiri di kamar termasuk meminta isteriku membeli buku-buku tentang dramaturgi. Ia kerap bercerita pada kami bahwa artis ini sedang dekat sama artis itu, pengusaha itu dikabarkan selingkuh dengan artis ini, ada artis diisyukan bermesraan dengan teman istrinya yang juga artis, dan sebagainya.
Nama pengasuh itu cukup keren: Clarence Eudocia. “Yang memberikan nama itu adalah putri majikan ibuku ketika dulu di kota,” kata Clarence menjelaskan asal muasal nama itu. Ia pun menjelaskan artinya. Clarence itu dari bahasa Latin yang berarti pintar dan terkenal. Eudocia dari bahasa Yunani berarti mulia.
“Jadi, dari sisi nama, aku punya modal kuat untuk menjadi orang terkenal,” katanya suatu kali. Aku dan istriku yang mendengarnya terkekeh. Maka itu, lebaran kemarin, ia bela-belain tidak pulang kampung.
Uang tunjangan hari raya yang kuberikan senilai empat kali gajinya digunakan untuk membeli telepon genggam terbaru dan mendaftarkan diri ke agency model sebagai jalan untuk menjadi artis.
“Halo, Clarence?” Sapaku di telepon ketika di seberang telepon diangkat.
“Ini aku, Kalina. O, kamu sering menelpon ke rumah jam segini mau main mata sama Clarence ya,” sahut di seberang.
“Nggak, nggak. Aku cuma mau tahu kabar anak-anak. “
“Anak-anak baik-baik. Jangan coba-coba main api di rumah ya?”
“Ya enggaklah. Kamu kan lebih cantik, lebih seksi, lebih hebat, lebih segalanya dari Clarence. Masa aku sampai tergoda sama Clarence.”
“Jangan merayu.”
“Kok kamu sudah pulang sih?”
“Tadi Bi Inah menelpon, katanya Clarence kabur.”
“Kabur?”
“Iya. Aku sudah berusaha menelponnya, tapi tidak berhasil. Hp-nya tidak aktif.”
“Apakah ia membawa barang-barang kita?”
“Ya enggak sih. Tapi kalau terjadi apa-apa dengan dia bagaimana. Lagi pula, kalau tidak ada dia, siapa yang menjaga anak-anak. Bi Inah pasti tidak mungkin mengerjakan beberapa hal sekaligus, mengerjakan pekerjaan rumah sekalian mengasuh anak-anak.”
“Coba kasih tahu keluarganya di kampung.”
“Ya.”
Setelah telepon kututup, pikiranku melayang ke Clarence. Ia masih sangat muda, baru 18 tahun, dan pintar. Sayang orang tuanya miskin, sehingga tidak mampu membiayai sekolahnya lebih lanjut. Tapi aku yakin ia bakal sukses karena ia punya impian besar untuk menjadi sesuatu. Tapi mengapa ia kabur?
Ah, mengapa aku jadi memikirkan anak itu. Asal dia tidak membawa barang-barang kami, ya biar saja. Tapi memang tidak gampang mencari pengasuh yang bisa dekat dengan anak-anakku. Beberapa kali kami ganti pengasuh, karena tidak cocok dengan anak-anak. Makanya aku bisa paham istriku begitu uring-uringan karena dia kabur.
Tapi, sebentar, kok sosok Clarence persis seperti ciri-ciri yang disebutkan dalam pesan singkat itu.
Aku kembali membuka pesan singkat yang belum kuhapus itu dan kubaca. “…..Dia makin cantik. Rambut sebahunya dicat keemasan, dan ketika tersenyum lesung pipinya sangat menonjol. Tingginya kira-kira 165 centimeter…..” Aku segera mendelet pesan singkat itu, tak ingin lagi pikiran dan perasaanku terganggu karenanya. Sekalian, aku mematikan telepon genggam, karena aku takut tiba-tiba pesan itu masuk lagi.
Kini aman. Untuk membunuh rasa jenuh, aku mengobrol dengan Pak Amran dan Dedy. Sedang asyik mengobrol, telepon genggam Dedy berbunyi nyaring dan membuat kami terdiam. “Sebentar,” Dedy meminta diri sambil beranjak beberapa meter dari tempat duduk kami.
Tidak sampai semenit, Dedy kembali. “Ini ada telepon dari istri Bapak. Katanya handphone Bapak tidak aktif ya,” kata Dedy sambil menyerahkan telepon genggamnya kepadaku.
Aku mengambil telepon genggam Dedy. Belum sampai telepon genggam itu menempel di telingaku, suara dari seberang mengusik. “Kok handphonenya dimatiin sih? Biar enggak diuber cewek-cewek ya?”
“Kok ngomongnya gitu sih. HP-ku habis batere,” kataku berkelit.
“Memangnya ada apa sih? Kok serius amat?”
“Aku belum berhasil menelpon Clarence. Aku sudah menelpon keluarganya, tapi belum mereka juga tidak tahu.”
“Mungkin ikut syuting sinetron,” kataku.
“Kalau ikut syuting, ngapain membawa semua pakaian dan barang-barangnya.”
“Sudahlah, kamu tenang aja. Mungkin dia lagi punya masalah.”
“Yang jelas di rumah tidak ada masalah.”
“Ya mungkin masalah dengan orang lain. Tenang saja, kalau memang ia mau tetap bekerja di tempat kita, Clarence akan balik lagi.”
“Ya deh…”
Telepon ditutup. Aku kembali menyerahkan telepon genggam itu kepada Dedy. Aku merogoh telepon genggam, dan menghidupkannya. Tak lama, sejumlah SMS masuk secara beruntun. Aku membuka satu persatu, semua isinya sama:
“Aku sudah menunggumu di Bandara di Pangkal Pinang. Pesawatmu ditunda ya?”
Pengirim pesan singkat itu nomor lain lagi. Aku sama sekali aku tidak mengenalnya. Mungkin dari panitia acara pelatihan di sana, maka aku pun menunjukkan ke Pak Amran dan Dedy, apakah ini dari panitia acara itu.
“Bukan. Pak Sadri, ketua panitia, yang menjemput kita sudah saya telepon tadi bahwa pesawat kita ditunda,” kata Dedy. Ah, dari siapa lagi pesan singkat ini. Lebih baik aku matikan saja telepon genggamku dan mengaktifkan kembali setelah sampai di hotel di Pangkal Pinang. Tapi persoalannya, bagaimana jika ada orang yang menelpon, dan itu penting. Ah, serba salah.
Tidak ada cara lain aku memutuskan untuk mematikan telepon genggam. Aku kemudian mengobrol dengan Pak Amran, Dedy dan Rahardi. Tak begitu lama, dari mikropon, terdengar panggilan agar kami segera naik ke pesawat. Aku duduk bersebelahan dengan Dedy dan Rahardi. Ngobrol sebentar, aku memutuskan tidur. Tidak ada mimpi apa pun yang singgah dalam tidurku itu.
Aku bangun beberapa saat sebelum mendarat di Pangkal Pinang. Saat itu, aku ingin sekali mengaktifkan telepon genggam. Pikiranku melayang ke pesan singkat-pesan singkat itu. Entah mengapa, aku ingin sekali bertemu dengan perempuan yang disebutkan di sana. Maka, begitu pesawat mendarat dan berhenti, aku buru-buru mengaktifkan telepon genggam.
Ada beberapa pesan singkat yang masuk, dan satu persatu kubaca, salah satunya dari isteriku yang mengabarkan Clarence belum pulang juga, dan telepon genggamnya tetap tidak aktif. Tapi, tak satu pun pesan singkat dari atau yang berkaitan dengan perempuan dengan ciri-ciri yang disebutkan dalam pesan singkat sebelumnya.
Di bandara itu, aku memang bertemu dengan beberapa orang yang mirip dengan ciri-ciri perempuan yang disebutkan itu, tapi tak seorang pun kukenal, juga tidak seorang pun menyapaku. Aku meninggalkan lobi bandara dan berjalan menuju mobil yang telah menjemput kami. Dalam perjalan ke hotel, rasa penasaran, sekaligus kecewa, menyergapku. Entah mengapa, aku menjadi berharap bertemu dengan perempuan yang disebutkan dalam pesan singkat itu.
Ah, tidur pun aku tidak nyenyak malam itu. Padahal, esoknya aku mesti menjadi instruktur dalam pelatihan menulis yang diadakan himpunan kesusastraan bekerja sama dengan pusat bahasa itu. Sosok perempuan yang mirip dengan ciri-ciri dalam pesan singkat itu terus membayang, menari-nari dalam pikiranku.
Entah jam berapa aku tertidur. Yang jelas, kepalaku begitu berat ketika telepon genggamku berdering. Ketika kuangkat, dari seberang suara isteriku seperti menggelegar: “Aku barusan berhasil menghubungi Clarance. Katanya ia sedang berkunjung ke tempat pamannya di Pangkal Pinang. Dia kan tidak pernah cerita punya paman di sana. Kamu main api sama Clarence ya….Awas ya….”
Belum sempat kujawab, telepon sudah ditutup. Aku terdiam, terdiam sangat lama. Perasaanku tiba-tiba menjadi tidak enak. Jangan-jangan…… ia akan menuntutku untuk menikahinya. Aku tidak sempat berpikir lebih lanjut. Sebab, Dedy yang sekamar denganku, keluar dari kamar mandi sambil menggosok-gosok rambutnya dengan handuk dan menyapaku, “Selamat pagi Pak. Sudah pukul tujuh. Sebentar lagi kita berangkat ke tempat pelatihan.” ***
Sumber : http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=200360

Kebangkitan Sastra Aceh Pasca-Tsunami

Kehidupan sastra di Aceh menggeliat bangkit pasca-tsunami. Berbagai acara sastra digelar dan buku-buku karya sastra berterbitan pasca-bencana besar itu. Buku terbaru, kumpulan cerpen Pada Tikungan Berikutnya karya Muswarman Abdullah, akan diluncurkan Selasa 13 Februari 2007, di kantor Lapena, Banda Aceh.

Buku itu hanya salah satu dari empat buku sastra yang telah diterbitkan Lapena pasca-tsunami, seperti Ziarah Ombak (antologi puisi tsunami) yang dieditori Sulaiman Tripa dan D Kemalawati, Surat dari Negeri tak Bertuan (kumpulan puisi karya D Kemalawati), Menunggu Pagi Tiba (kumpulan cerpen karya Sulaiman Tripa), dan Nyanyian Manusia (kumpulan puisi karya Harun Al Rasyid).

Selain dari Lapena, sejumlah buku karya sastra juga telah terbit pasca-tsunami, misalnya Bayang Bulan di Pucuk Mangrove (antologi cerpen, Dewan Kesenian Banda Aceh) yang dieditori Mustafa Ismail, Lagu Kelu (kumpulan puisi tsunami, Aliansi Sastrawan Aceh) yang dieditori Doel CP Allisah, Manusia Kodok (kumpulan cerpen, Komunitas Tikar Pandan) yang dieditori Azhari, dan novel Hikayat Sang Gila (Prima Rodeta) karya Saiful Bachri.

Saat ini juga masih ada dua buku — Dandelion dan Serdadu Tua Nguyen Polan — yang sedang dalam proses cetak. Dandelion adalah buku kumpulan cerpen dan puisi — diterbitkan oleh Komunitas Aceh Muda Kreatif (AMuK Community). Sedangkan Serdadu Nguyen Polan adalah buku kumpulan cerpen, puisi dan esei karya almarhum Hasyim KS — diterbitkan oleh Aliansi Sastrawan Aceh (ASA).

Buku Serdadu Nguyen Polan dieditori oleh Ketua ASA, Doel CP Allisah. Sedangkan Dandelion dieditori oleh Mustafa Ismail, Ahmadun YH dan Saiful Bachri. ”Buku ini merupakan hasil dari workshop penulisan cerpen dan puisi yang kami adakan di Saree,” kata Saiful Bachri, ketua AMuk Community.

Ketua Dewan Kesenian Banda Aceh, Zoelfikar Sawang, pun menyambut gembira kegairahan penerbitan buku-buku karya para penulis sastra di Aceh itu. ”Buku-buku lainnya akan segera menyusul,” katanya, optimis. Maraknya penerbitan buku dan acara sastra — sejak workshop, diskusi, sampai pertunjukan — itu oleh sementara pengamat sastra dianggap sebagai indikasi kebangkitan sastra Aceh pasca-tsunami. ”Memang ada indikasi sepeti itu,” kata Mustafa Ismail, cerpenis yang belakangan sering diundang mengisi work shop penulisan di Serambi Mekah.

Sebelum tsunami, kehidupan sastra di Aceh sebenarnya sudah cukup marak. Beberapa buku, baik novel maupun kumpulan cerpen dan puisi, sempat terbit. Acara-acara sastra juga sesekali digelar. Rubrik sastra di surat kabar lokal, seperti Serambi Indonesia, ikut mendenyutkan kehidupan sastra di Serambi Mekkah.

Ketika — 28 Desember 2004 — tsunami menerjang wilayah yang begitu lama dilanda konflik itu, sejumlah sastrawan dan seniman ikut menjadi korban bersama sekitar 140 ribu warga Nangroe Aceh Darussalam (NAD) lainnya. Misalnya, Maskirbi, M Nurghani Ayik, Papi Zakaria, Mustiar AR, Virse Venny, dan Suhaita Abdurrahman.

Masyarakat sastra Indonesia, khususnya yang tinggal di Aceh, tentu sangat terpukul atas kehilangan besar yang tidak pernah terduga sebelumnya itu. Namun, para sastrawan dan pekerja sastra Aceh tidak bisa hanya bersedih dan menyesali keadaan secara berkepanjangan. Mereka memanfaatkan momentum ‘banjir empathi’ untuk menggeliatkan kembali kehidupan sastra. Buku-buku diterbitkan, dan acara-acara sastra terus digelar. Sejumlah LSM sastra pun didirikan untuk membangkitkan kehidupan sastra di Serambi Mekkah. ”Kegiatan sastra di Aceh pasca-tsunami memang lebih marak dibanding sebelum tsunami,” kata Saiful Bachri.

Maka, di antara rasa duka dan kehilangan, muncullah semangat dan obsesi untuk mengembalikan kejayaan sastra Aceh seperti pada era Hamzah Fansuri — pujangga dari zaman kesultanan Aceh yang melegenda dan karya-karyanya abadi hingga sekarang. Namun, tentu tidak sepersis Hamzah Fansuri yang dibutuhkan masyarakat Aceh dan sastra Indonesia saat ini, karena zaman telah berubah, dan peran sastra serta kepujanggaan telah bergeser. Menurut Danarto, yang penting bagi sastrawan Aceh saat ini adalah menulis karya sastra sebanyak-banyak dan sebagus-bagusnya. ”Syukur kalau kemudian dapat lahir karya besar dari Aceh,” katanya dalam diskusi tentang sastra Aceh di gedung Republika, Jakarta, Rabu (31/1) lalu.

Dan, peluang untuk itu, menurut Hamsad Rangkuti, terbuka lebar bagi sastrawan Aceh. Banyak peristiwa dan persoalan besar di Aceh, seperti konflik disintegrasi dan tsunami, yang dapat menjadi sumber inspirasi bagi lahirnya karya-karya penting. ”Potensi untuk berkarya sangat besar,” kata cerpenis itu.

Untuk menguji obsesi tentang kebangkitan sastra Aceh, sekaligus menjalin kerja sama yang lebih baik dengan media-media sastra di Jakarta, beberapa sastrawan Serambik Mekah pun bertandang ke Jakarta, 30 Januari – 4 Februari 2007, lalu. Mereka, antara lain Zoelfikar Sawang, Saiful Bachri, dan Doel CP Allisah.

Selain berdialog dengan beberapa sastrawan, mereka juga mengunjungi beberapa kantor redaksi surat kabar, seperti Republika dan Koran Tempo. Sayangnya, bencana banjir yang melanda ibukota menghalangi keleluasaan gerak mereka. Kompas dan Horison, misalnya, batal dikunjungi.

Menurut Zoelfikar Sawang, pasca-tsunami banyak kelompok sastrawan tumbuh di Aceh. Mereka juga makin bergairah untuk berkarya. Karena itu, ia mengharapkan para pengamat sastra melirik Aceh dan memperhatikan karya-karya sastra yang lahir di sana. Ia juga mengharapkan media-media sastra di Jakarta memberikan peluang yang memadai bagi para sastrawan Aceh, agar mereka dapat ikut berperan bagi perkembangan sastra Indonesia. ahmadun yh

Sumber : http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=282279&kat_id=306

Alina

Adalah Puisi “Perjalanan Kubur” Sutardji Calzoum Bachri berawal kisah ini :
…………………………….
Untuk kuburmu Alina
aku menggali-gali dalam diri
raja dalam darah mengaliri sungai-sungai mengibarkan bendera hitam
menyeka matahari membujuk bulan
teguk tangismu Alina
…………………………….
Alina! Alina! Alina! Siapakah Alina? Yang menggurat gairah, mengunyah sejarah, getarkan tampuk semesta; adakah Alina? Alina di kesementaraan angan menuju keabadian kenangan — yang entah di mana akhirnya dan entah bagaimana jasad nisbinya. Alina yang punya sejuta cinta dan sekeranjang dosa umat manusia tengah meronta-ronta di liang kuburnya yang tua. Alina yang rahasia, yang berwujud kita, berwujud budaya, berwujud apa saja; tengah menjalani siksa. Siksa Alina!

“Jangan! Jangan ingkari Alina. Jangan sakiti Alina. Jangan dipolitisir Alina. Jangan agung-agungkan Alina. Jangan adakan dan tiadakan Alina. Jangan apa-apakan Alina. Jangan apa-apakan Alina! Biarkan Alina tetap Alina!” lengking saya dalam keadaan luruh yang meluruhkan kesenduan pagi berkabut di sebuah perkampungan kumuh, di pinggiran kota saya yang tertuduh.

Ya, kota saya merasa tertuduh telah merampas, membantai dan memperkosa Alina. Kota saya merasa tersingkir, dileceh-lecehkan, diludahi dan ditelanjangi. Kota saya gelagapan dan gemetar dalam amarah diamnya yang mendidih. Kota saya melambai-lambai, menggapai-gapai dan tidak mau tenggelam. Kota saya patah. Kota saya gerah. Wajahnya berlumur darah. Darah-darah yang melimpah. Darah-darah yang beriak-riak, berombak-ombak, bergulung-gulung melintasi samudera hati diri-hati diri, hingga akhirnya terhempas di pantai liang kubur Alina. Oh, kota saya yang berantakan!

Dan, ketika liang kubur Alina mulai mereguk genangan darah demi genangan darah yang memang bermuara ke sana, kesenduan pagi segera menyusut untuk segera terbang ke alam panas. Pagi tiba-tiba membara. Pagi-pagi dalam prahara. Pagi-pagi dalam huru-hara. Pagi-pagi jadi sangat berbahaya. Di persimpangan-persimpangan, di pusat-pusat perbelanjaan, di salon-salon kecantikan, di emperan-emperan kaki lima, di lorong-lorong sempit, di depan kantor-kantor pemerintah dan swasta, di halaman-halaman sekolah, di pinggir kali, di pasar ikan, di pasar sayur, di pasar-pasar lelang umur manusia, orang-orang ternganga sambil menatap pilu ke ufuk liang kubur Alina. Mereka bertanya-tanya apa tanda ini semua? Apa makna ini semua?
Dengan hati berdebar-debar mereka segera membentuk barisan.

Tanpa aba-aba mereka segera bergerak. Derap langkah menggemuruh, membungkamkan diam mereka yang resah. Pagi terasa semakin panas! Parade mereka — penduduk kota saya — semakin mantap berderap, semakin cepat bergerak. Peluh mulai bercucuran. Amarah mulai terpancar dari muka mereka. Ada yang merasa tersayat pedih. Ada yang merasa teriris perih. Tetapi mereka semua berusaha diam, berusaha membungkam rasa, membungkus luka, menyeret damba, menggapai semesta. Dan semua menuju ke saya. Mereka menuju ke saya!

Saya terbeliak-beliak menyaksikan kerumunan orang yang begitu banyak. Besar-kecil, tua-muda, lelaki dan wanita berdesak-desak mengerumuni saya. Mereka semua menikam saya dengan pandangan matanya yang dingin, sinis dan mengerikan. Ribuan mulut dikancip-kancipkan. Ribuan tangan diancung-ancungkan. Ribuan kepala ditengadahkan. Ribuan dada ditepuk-tepuk. Ribuan kenangan dirobek-robek, diremas-remas kemudian dicampakkan ke muka saya. Mereka marah! Dan marahnya ditujukan kepada saya! Mengapa harus ke saya? Mengapa saya?

“Kau!” tuding seorang nenek dengan beringasnya.

“Kembalikan aku! Kembalikan kau!” jerit histeris seorang cukong bertubuh jangkung.

“Bantai saja kau! Sikat semua kau! Tunggu apa lagi kau!” terisak-isak seorang bocah bergumam.

Kemudian semua bergumam-gumam, semua berbisik-bisik, semua mengerang-ngerang dan semua mengerat-ngerat keberadaan saya. Saya terpelanting kesana-kemari dalam keterkejutan yang patah-patah. Saya gerah, kecut dan lunglai. Saya terabaikan. Saya merasa digorok-gorok, dicincang dan diiris tipis-tipis. Habis! Habislah saya! Tapi saya tidak tahu apakah saya yang kehabisan ataukah saya yang dihabiskan.
Yang jelas saya jadi sangat merana, menderita, terlunta-lunta akibat malapetaka Alina.

Alina? Mengapa saya terhina karena Alina? Begitu tegakah Alina? Mengapa saya ternoda karena Alina? Begitu berkuasakah Alina? Pasrahkah saya demi Alina? Oh, ini bencana apa? Ini bencana apa?

“Keterlaluan sekali! Saya tidak mau diperlakukan seperti ini. Saya benci! Saya tak mau mati dalam sekarat seperti ini. Kasihan Alina bukan berarti kasihanilah saya. Alina tetap Alina! Saya bukan Alina! Biarkan saya tetap saya. Saya tak tahan lagi, saya tak rela jika diganyang seperti ini. Biarkan saya kembali kepada saya. Biarkan saya…,” ratap saya dengan terhiba-hiba.

Udara mendadak gemetar. Daun-daun, batu-batu, dinding-dinding, tiang-tiang listrik, jembatan-jembatan, perasaan-perasaan, kekecewaan-kekecewaan, kebohongan-kebohongan, nista-nista, ambisi-ambisi, persepsi-persepsi, kolusi-kolusi, imaji-imaji, bergetar-getar. Semua bergetar-getar. Begitu asingnya suasana ini tercipta. Saya sedang diperdaya! Saya sedang diperdaya!

Suatu ketika seraup hawa panas menyebar, menampar muka-muka penduduk kota saya yang tercengang-cengang; pilu dalam tanda tanyanya masing-masing. Namun mereka tetap saja menikam saya dengan ketercengangannya dan tanda tanya yang menggelegak di benaknya. Mereka jadi sangat buas dan beringas dalam katup gamangnya yang sukar diterjemahkan. Mereka sepertinya bukan lagi mereka!

“Oh, Alina…, mengapa mereka menghimpit-himpit saya dengan bala bencana seperti ini? Apa salah saya, Alina? Tolonglah saya, Alina! Ah, tetapi tidak! Tidak! Saya tak perlu dikasihani. Saya bukan jenis manusia banci. Lupakan saja saya. Biarkan saya tetap saya. Acuhkanlah saya supaya saya segera merdeka. Ya, merdeka!”

Tetapi semua jadi percuma. Saya merasa tersia-sia tanpa jiwa, tanpa rasa, tanpa apa-apa. Saya jadi ringan polos-telanjang, melayang-layang dan membentur ruang batas yang tak berbatas. Kemudian perlahan-lahan saya meluncur, meraup baying-bayang dan sisa angan-angan yang menyekat di ubun-ubun penduduk kota saya. Penduduk kota saya semakin terperangah dan terus saja marah-marah. Mereka blingsatan kesana-kemari, sibuk dalam mencari-cari.

Agaknya penduduk kota saya telah kehilangan sesuatu yang entah apa, yang pernah jadi miliknya, yang paling dicintainya. Mereka semakin sibuk mencari-cari, menyusup ke riol-riol, mengais-ngais bak sampah, membongkar-bongkar arsip negara, mengaduk-aduk gudang beras, gudang tepung, gudang hati, gudang mimpi, gudang sepi, memilah-milah sejarah, mengobrak-abrik gairah, melesat ke semesta! Mereka terus mencari-cari. Mereka larut dalam pencariannya sendiri-sendiri.

Meresapi makna malapetaka ini saya jadi sakit sekali. Mengapa semua harus berakhir seperti ini? Adakah ini dendam Alina? Adakah ini kutuk Alina? Mengapa semua harus merasakan siksa? Siksa! Oh, terlalu purba makna yang tersirat dari siksa yang tersiksa dirimu Alina. Alina, adakah engkau rindu? Mungkin kami yang tertipu!

Sebuah kekuatan menyerap tubuh saya mendekati liang kubur Alina. Saya terkesiap dan segera bergerak-gerak, menghentak-hentak untuk melepaskan diri dari cengkeraman kekuatan laknat ini. Seluruh kekuatan saya kerahkan. Sebuah kehormatan saya pertaruhkan. Tetapi semua jadi sia-sia. Saya harus mengaku kalah. Tubuh saya semakin lemah. Saya merasakan lelah. Oh, mengapa harus ada kekalahan?

Udara semakin membara. Pagi kehilangan rupa. Angin merah menderu-deru menciptakan suasana neraka. Kata-kata mengalir begitu cepat dan tersaruk-saruk dalam perjalanannya yang mendidih, menggelegak, berbuncah-buncah, meleleh di dinding-dinding kusut kota saya. Jalan-jalan protokol dan lorong-lorong dingin terlipat-lipat. Pepohonan menguap. Taman kota membusuk. Wajah kota saya terkelupas dan bopeng-bopeng. Kota saya terluka! Kota saya terluka!

Sedikit demi sedikit tubuh saya digiring ke tepi liang kubur Alina untuk dibenam di sana . Saya mencoba untuk berbuat, tetapi tidak tahu harus berbuat apa karena saya sudah dicekam untuk tidak berbuat apa-apa. Saya relakan saja jika ini memang akhir yang harus saya terima. Perlahan-lahan tubuh saya mulai dibenamkan ke liang kubur Alina. Saya juga tidak tahu harus bersedih atau bersuka ria. Saya diam saja, menerima apa adanya. Tubuh saya semakin terbenam, semakin tenggelam dalam liang merah membara milikmu Alina! Milikmu Alina!

Lambaian terakhir sempat saya ancungkan, sebagai ucapan selamat tinggal kepada seluruh penduduk kota saya yang semakin sibuk mencari-cari. Saya tidak tahu apa yang mereka cari. Adakah mereka mencarimu, Alina? Oh, Alina, terimalah saya seutuhnya. Seutuhnya di keabadianmu, Alina!

Sekali mata saya terbeliak. Kemudian perlahan menjadi sendu, sayu dan terasa begitu syahdu.
Udara kian membara.
Tapi, dimanakah Alina?! Dimana Alina?!
…………………………….
Saya dibohongi lagi!
Saya dibohongi lagi!

***

Banda Aceh, November 1994